Kamis, 08 September 2011

Saya, Kakek, dan Masa Kehidupan Penjajahan Jepang


Saya mendapat tugas dari pelajaran Sejarah mengenai saksi sejarah. Pada tugas biografi ini saya mengambil tema Penjajahan Jepang dengan saksi sejarah kakek saya.  Saya melakukan wawancara melalui telepon. Saya merasa tema ini menarik sebab kita sebagai generasi muda hendaknya menghargai jasa para pahlawan dan rakyat Indonesia lainnya dalam usahanya untuk membela nusa dan bangsa.

Riwayat Hidup
Nambusi Ginting, lahir di Keriahan pada tanggal, 15 Juli 1925. Keriahan terletak di Kecamatan Tiga Binanga yang cukup jauh dari pusat Kota Medan. Merupakan anak kedua dari tiga belas bersaudara dari pasangan Gunap Ginting dan Jumpalip br. Sembiring. Beliau menikah dengan Lem br. Tarigan pada tahun 1946 dan karuniakan empat orang anak. Anak pertama berjenis kelamin wanita bernama Mela br. Ginting, anak kedua adalah ayah saya, beliau bernama Jimmy Ginting, anak ketiga bernama Ganda br. Ginting, dan yang terakhir bernama Juanda Ginting. Beliau bermata pencaharian sebagai petani karena moyoritas masyarakat di sana bercocok tanam. Tanaman yang ditanam beliau seperti cokelat, jeruk, duren, jagung, dan lada.meskipun beliau hanya berprofesi sebgai petani, beliau dapat menyekolahkan semua anak beliau sampai sarjana. Saat ini diumur 87 tahun ini beliau merupakan orang yang dituakan di kampungnya oleh karena itu beliau sering memimpin acara-acara adat.

Kakek saya bercerita bahwa penjajah Jepang masuk ke wilayah Indonesia pada saat perang Asia Timur Raya, karena itu Jepang datang ke Indonesia untuk mencari cadangan militer sebagai antisipasi serangan sekutu. Kedatangan Jepang disambut manis oleh bangsa Indonesia, dikarenakan Jepang menyebut dirinya sebagai “Saudara Tua” bangsa Indonesia yang akan membebaskan belenggu penjajahan Belanda. Meskipun kependudukan Jepang berlangsung secara singkat yakni kurang lebih tiga setengah tahun saja, namun penjajahan tersebut cukup membawa perubahan_perubahan besar dalam kehidupan bangsa Indonesia. Kekejaman Jepang terhadap daerah-daerah di Indonesia tidak dapat dipungkiri lagi contohnya di Sumatera Utara tempat kakek saya lahir. Kakek saya berusia 86 tahun, beliau bernama Nambusi Ginting. Beliau lahir di Keriahan, 15 Juli 1925. Keriahan merupakan daerah Tanah Karo yang jaraknya lumayan jauh dari Kota Medan. Ketika peristiwa Penjajahan Jepang terjadi, beliau berusia sekitar 17 tahun.
Ketika tentara Jepang mencoba untuk menduduki Tanah Karo, masyarakat di sana melakukan perlawanan walaupun dengan senjata sederhana. Kakek saya bercerita bahwa kakek saya ikut serta dalam pertempuran tersebut, beliau berkata bahwa tidak ada rasa takut sama sekali untuk melawan penjajah Jepang. Korban pun berjatuhan dari pihak tentara Jepang maupun Indonesia. Korban-korban  tentara Jepang yang berguguran akibat perlawanan mayarakat Tanah Karo dikuburkan di Sari Nembah. Saya pernah sekali berkunjung ke Sari Nembah bersama kakek saya ketika berlibur ke Tanah Karo, sampai saat ini kuburan tersebut masih terawat dengan baik. Tidak hanya sekali terjadi perlawanan dari rakyat Tanah Karo, banyak terjadi perlawanan yang seringkali menyebabkan hilangnya nyawa saudara-saudara dan teman-teman beliau. Kakek saya sangat bersyukur karena dapat luput dan selamat dalam pemberontakan tersebut. Akan tetapi, perlawanan Jepang terus menerus dilakukan sampai akhirnya masyarakat Karo dapat dikendalikan oleh pemerintah Jepang, mereka mulai menguasai lahan-lahan pertanian dan perkebunan. Kakek saya menambahkan bahwa pada masa penjajahan Jepang di Tanah Karo terdapat pengambilan seseorang menjadi tenaga kerja paksa atau romusha. Romusha berarti buruh atau pekerja yang merupakan panggilan bagi orang-orang Indonesia yang dipekerjakan secara paksa pada masa penjajahan Jepang di Indonesia dari tahun 1942 hingga 1945. Kebanyakan romusha adalah petani. Ketika itu anggota Romusha dari Tanah Karo dikirim ke Tanjung Tiram. Kakek saya bercerita bahwa siapa saja yang menjadi anggota Romusha, sekembalinya dari Tanjung Tiram, badannya persis seperti tengkorak akibat perlakuan penjajah Jepang. Penjajah Jepang menurut Kakek saya sangat kejam, sebab sedikit saja memperlihatkan sikap anti-Jepang maka hukuman yang diberikan adalah hukuman mati.
Pada masa penjajahan Jepang terdapat berbagai macam organisasi, seperti Organisasi Guseikan yang merupakan Angkatan Darat Jepang yang berkedudukan di pulau Sumatera dipusat dan dikendalikan di Singapura. Untuk memperlancar pencarian pemuda calon cadangan pertahanan Jepang maka dibentuklah Seidendu. Pasukan Seidendu juga dibentuk sebagai propaganda tentang Jepang di Sumatera Utara. Badan ini juga membentuk surat kabar yang diterbitkan di Sumatera Utara bernama Sumatera Sinbun. Selain itu, mereka yang bersedia terlibat dalam kelompok ini dinamakan Heiho, yang artinya sebagai pembantu tentara Jepang. Untuk tugas keamanan di darat dan di laut, dibentuklah Seinendan dan Keibondan. Mereka dilatih militer yang sangat keras dan disiplin yang ketat. Tugas pokok dari dua kelompok ini adalah sebagai pasukan perang, dengan metode gerilya dan pembantu polisi dalam menjalankan tugasnya. Khusus untuk daerah Sumatera Timur, tentara Jepang membentuk pasukan Moku Tai dan Kenko Tai Sin Tai.
Saya bertanya kepada beliau “Kakek, bagaimana kehidupan kakek selama penjajahan Jepang?”. Beliau menjawab ketika peristiwa penjajahan Jepang, kehidupan sosial ekonomi masyarakat berubah drastis menjadi lebih sengsara akibat sikap Pemerintah Jepang yang bertindak di luar batas perikemanusiaan. Pada masa penjajahan Jepang tidak tersedia bahan sandang pangan yang cukup. Kenangan masih jelas dalam ingatan kakek saya bahwa pada masa penjajahan Jepang tidak lagi tersedia beras sebagai bahan pokok, tetapi makanan sehari-hari kakek saya adalah ubi kering yang dipotong tipis. Apabila ingin dimakan terlebih dahulu direndam air beberapa waktu, kemudian dikukus. Apabila tidak terdapat lauk, ubi tersebut cukup dicampur kelapa parut dan garam untuk menambah rasa. Pada masa penjajahan Jepang pakaian yang dikenakan kakek saya adalah pakaian yang dijahit dari karung goni, banyak terdapat kutu di karung goni tersebut, sehingga orang-orang yang memakainya sering merasa gatal. Kekurangan sandang dan pangan mewarnai kehidupan sehari-hari rakyat, sehingga tak jarang berbagai jenis tumbuhan atau hewan yang tidak lazim untuk dikonsumsi terpaksa dimakan, seperti bekicot dan daun-daunan. Hal ini terpaksa kakek saya lakukan karena keterbatasan biaya untuk membeli pakaian layak. Tak jarang karena keterbatasan ekonomi, sering terjadi perampokan di Tanah Karo, daerah tempat kakek saya tinggal. Kakek saya juga menambahkan bahwa sering ditemukan mayat-mayat yang tergeletak di pinggir jalan karena mati kelaparan.
Kakek saya merupakan anak kedua dari tiga belas bersaudara yang diantaranya 5 perempuan dan 8 laki-laki. Beliau bekerja dengan berladang jagung dan jeruk untuk membantu ayahnya. Selain berladang beliau juga memiliki hewan ternak seperti ayam dan babi. Tetapi hasil ladang yang susah payah beliau kerjakan diambil paksa oleh tentara Jepang tak terkecuali hewan ternak, padahal kakek saya sudah bersusah payah untuk merawat hewan ternak tersebut. Kakek saya bercerita bahwa pada masa penjajahan Jepang, para petani diwajibkan untuk menyetorkan hasil panen seperti jagung dan ternak, selain itu banyak hutan-hutan ditebang untuk keperluan industri. Hasil panen tersebut digunakan penjajah Jepang untuk memenuhi kebutuhan perang mereka saat itu. Penderitaan akibat kurangnya bahan pangan ini tentu berdampak terhadap kondisi kesehatan, sehingga penyakit seperti busung lapar, beri-beri, dan berbagai penyakit lainnya akibat kurang gizi berkembang di tengah rakyat. Angka kematian pun meningkat. Rakyat mulai membenci Jepang karena penderitaan ini, tetapi kakek saya berkata mereka tidak mampu berbuat apa pun karena kejam dan kerasnya pengawasan serta tindakan dari tentara Jepang.
Pada tahun 1945, bergema persiapan Proklamasi demikian juga di Kota Medan tidak ketinggalan para tokoh pemudanya melakukan berbagai macam persiapan, termasuk kakek saya. Mereka mendengar bahwa bom atom telah jatuh di Hiroshima, yang menandakan kekuatan Jepang sudah lumpuh dan melemah. Ketika penguasa Jepang menyadari kekalahannya,  mereka segera menghentikan segala kegiatannya, terutama yang berhubungan dengan pembinaan dan pengerahan pemuda seperti Heiho, Romusha, Gyu Gun dan Talapeta mereka bubarkan atau  kembali kepada masyarakat. Akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945 gema kemerdekaan telah sampai ke kota Medan walupun dengan tersendat-sendat karena keadaan komunikasi pada waktu itu sangat sederhana sekali. Semua rakyat di Kota Medan bersorak-sorai atas kemerdekaan Indonesia termasuk beliau tetapi Proklamasi yang dibacakan di Jakarta, masih membutuhkan dukungan dari seluruh daerah yang ada di Indonesia. Beliau berkata maka dari itu tentara Jepang tidak mengakui kemerdekaan Indonesia  dan masih menduduki Kota Medan. Beliau hanya menunggu perkembangan berikutnya lewat radio. Beliau mendengar kabar bahwa proklamasi akan segera dikumandangkan. Beliau dan kakak beliau pergi ke lapangan (beliau tidak ingat nama lapangan itu) saat itu adalah bulan September. Proklamasi Kemerdekaan pun dikumandangkan dan menyebar ke seluruh daerah Sumatera. Suka cita segera dirasakan masyarakat disana sebab telah lama kemerdekaan tersebut dinantikan oleh masyarakat Indonesia, termasuk kakek saya.
Terdapat suka dan duka dalam menyelesaikan tugas biografi ini, sukanya adalah sebab melalui tugas biografi ini saya semakin mengerti dan menghargai akan jerih payah dan penderitaan masyarakat Indonesia pada zaman penjajahan, saya merasa bersyukur sebab saya terlahir di Indonesia dalam kondisi yang sudah nyaman dan merdeka. Sedangkan dukanya adalah wawancara yang saya lakukan melalui telepon dengan kakek saya, saya mengalami beberapa kesulitan karena usia kakek saya yang sudah tua dan wawancara yang saya lakukan melalui telepon sehingga saya harus melakukan wawancara hingga beberapa kali ntuk dapat menyelesaikan tugas biografi ini. Semakin banyak generasi muda pernerus bangsa yang kurang bertanggung jawab kepada negara maupun pada diri mereka sendiri. Pergaulan bebas, tidak hormat pada orang tua, bahkan untuk mengikuti upacara bendera saja sulit. Saya berharap dengan membaca biografi ini, rasa cinta tanah air semakin tumbuh dalam diri kita, semoga tugas biografi ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar