Jumat, 30 September 2011

Tugas-3: Museum Yang Merekam Sejarah


Saya, Museum Gajah dan Gamelan Banjar   
 
Untuk memenuhi tugas sejarah mengenai sebuah artefak di museum, pada hari Jumat 30 September 2011, saya bersama kedua teman saya Adirama Tri Satrio Wirawan dan Fariz Zhafari mengunjungi Museum Nasional, atau yang lebih umum dikenal dengan nama Museum Gajah yang beralamat di Jl. Medan Merdeka Barat 12, Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Akses menuju museum ini sangat mudah, karena berada dikawasan pusat Kota Jakarta, letaknya dekat dengan Monas. Namun kondisi jalanan yang selalu macet menjadi hambatan saya bersama teman-teman saya menuju museum yang harga tiket masuknya seharga Rp.5000,- dan untuk pelajar seharga Rp.2000,-.

Eksistensi Museum Nasional diawali dengan berdirinya suatu himpunan yang bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, didirikan oleh Pemerintah Belanda pada tanggal 24 April 1778. Pada masa itu di Eropa tengah terjadi revolusi intelektual (the Age of Enlightenment) yaitu dimana orang mulai mengembangkan pemikiran-pemikiran ilmiah dan ilmu pengetahuan. Pada tahun 1752 di Haarlem, Belanda berdiri De Hollandsche Maatschappij der Wetenschappen (Perkumpulan Ilmiah Belanda). Hal ini mendorong orang-orang Belanda di Batavia (Indonesia) untuk mendirikan organisasi sejenis.

Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BG) merupakan lembaga independen yang didirikan untuk tujuan memajukan penetitian dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang-bidang ilmu biologi, fisika, arkeologi, kesusastraan, etnologi dan sejarah, Berta menerbitkan hash penelitian. Lembaga ini mempunyai semboyan "Ten Nutte van het Algemeen" (Untuk Kepentingan Masyarakat Umum).

Salah seorang pendiri lembaga ini, yaitu JCM Radermacher, menyumbangkan sebuah rumah miliknya di Jalan Kalibesar, suatu kawasan perdagangan di Jakarta-Kota. Kecuali itu ia juga menyumbangkan sejumlah koleksi benda budaya dan buku yang amat berguna, sumbangan Radermacher inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya museum dan perpustakaan.

Selama masa pemerintahan Inggris di Jawa (1811-1816), Letnan Gubernur Sir Thomas Stamford Raffles menjadi Direktur perkumpulan ini. Oleh karena rumah di Kalibesar sudah penuh dengan koleksi, Raffles memerintahkan pembangunan gedung baru untuk digunakan sebagai museum dan ruang pertemuan untuk Literary Society (dulu disebut gedung "Societeit de Harmonie"). Bangunan ini berlokasi di jalan Majapahit nomor 3. Sekarang di tempat ini berdiri kompleks gedung sekretariat Negara, di dekat Istana kepresidenan.
Jumlah koleksi milik BG terus neningkat hingga museum di Jalan Majapahit tidak dapat lagi menampung koleksinya. Pada tahun 1862, pemerintah Hindia-Belanda memutuskan untuk membangun sebuah gedung museum baru di lokasi yang sekarang, yaitu Jalan Medan Merdeka Barat No. 12 (dutu disebut Koningsplein West). Tanahnya meliputi area yang kemudian di atasnya dibangun gedung Rechst Hogeschool atau "Sekolah Tinggi Hukum" (pernah dipakai untuk markas Kenpetai di masa pendudukan Jepang, dan sekarang Departemen Pertahanan dan Keamanan). Gedung museum ini baru dibuka untuk umum pada tahun 1868.

Museum ini sangat dikenal di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya penduduk Jakarta. Mereka menyebutnya "Gedung Gajah" atau "Museum Gajah" karena di halaman depan museum terdapat sebuah patung gajah perunggu hadiah dari Raja Chulalongkorn (Rama V) dari Thailand yang pernah berkunjung ke museum pada tahun 1871. Kadang kala disebut juga "Gedung Arca" karena di dalam gedung memang banyak tersimpan berbagai jenis dan bentuk arca yang berasal dari berbagai periode.

Pada tahun 1923 perkumpulan ini memperoleh gelar "koninklijk" karena jasanya dalam bidang ilmiah dan proyek pemerintah sehingga lengkapnya menjadi Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Pada tanggal 26 Januari 1950, Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen diubah namanya menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia. Perubahan ini disesuaikan dengan kondisi waktu itu, sebagaimana tercermin dalam semboyan barunya: "memajukan ilmu-ilmu kebudayaan yang berfaedah untuk meningkatkan pengetahuan tentang kepulauan Indonesia dan negeri-negeri sekitarnya".

Mengingat pentingnya museum ini bagi bangsa Indonesia maka pada tanggal 17 September 1962 Lembaga Kebudayaan Indonesia menyerahkan pengelolaan museum kepada pemerintah Indonesia, yang kemudian menjadi Museum Pusat. Akhirnya, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, No.092/ 0/1979 tertanggal 28 Mei 1979, Museum Pusat ditingkatkan statusnya menjadi Museum Nasional.
Kini Museum Nasional bernaung di bawah Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Museum Nasional mempunyai visi yang mengacu kepada visi Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yaitu "Terwujudnya Museum Nasional sebagai pusat informasi budaya dan pariwisata yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan peradaban dan kebanggaan terhadap kebudayaan national, serta memperkokoh persatuan dan persahabatan antar bangsa".

Bangunan di Museum ini ada 2, yaitu Gedung Gajah dan Gedung Arca.  Di Gedung Gajah ada bagian  Peninggalan-peninggalan kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia, yang merupakan koleksi terlengkap dibandingkan dengan museum-museum lain di Indonesia, dan yang paling dikenal adalah patung Adityawarman yang memang sangat mencolok karena tingginya yang mencapai 4 meter. Lalu ada juga bilik Treasure Rooms, Koleksi Keramik, Koleksi Pra-sejarah, era colonial Belanda dan Etnografi tiap-tiap daerah di Indonesia.

Lalu ada Gedung Arca yang dibangun setelah Gedung Gajah, menyimpan artefak-artefak yang dikategorikan menjadi beberapa kategori seperti kesenian, teknologi, bahasa dan lain-lain.

Di Museum ini, saya memilih untuk membahas sebuah artefak dari bilik Etnologi Kalimantan yang dikenal dengan nama Gamelan Banjar.
Gamelan Banjar merupakan seni karawitan yang berkembang di kalangan Suku Banjar, Kalimantan Selatan. Berdasarkan naskah tutur candi yang menceritakan tentang sejarah Kerajaan Banjar khususnya dalam hikayat lambung mangkurat, disebutkan istilah gamelan. Berikut adalah kutipan dari naskah tutur candi yang menyebutkan istilah gamelan, ‘’…..ayu anakanda bermain-main, karena urang di dalam nagri ini tiada biasa malihat wayang dan tuping, maka panji itupun menyuruh tamannya memalu atau memukul gamelan, maka sakalian taman-tamannya pun masing-masing dengan pekerjaannya ada yang  manggusuk rebab dan mamukul agung dan lain-lain, maka berbunyilah….’’

Tradisi gamelan mulai dikenal sejak masa kerajaan Dipa pada abad ke 14 masehi, yaitu ketika Pangeran Suryanata berkuasa. Kerajaan yang berpusat di daerah Amputai ini merupakan Kerajaan Hindu pertama yang berdiri di Kalimantan Selatan. Pangeran Suryanata memiliki nama asli Raden Putera, seorang pangeran dari Kerajaan Majapahit yang dinikahkan dengan seorang putri Banjar yang bernama Putri Junjung Buih. Saat itu rakyat Kalimantan Selatan dianjurkan untuk mengikuti budaya Jawa, seperti gamelan, keris dan juga wayang. Gamelan Banjar kemudian berkembang di kalangan keraton dan rakyat jelata.

Setelah Kerajaan Dipa runtuh, muncul Kerajaan Negara Daha yang meneruskan tradisi Gamelan yang dimulai oleh kerajaan Dipa. Kemudian, pada tahun 1526, Kerajaan Daha juga runtuh. Namun, ada beberapa pemuka adat yang terus mengajarkan kesenian, yaitu Datu Taruna (pemain gamelan), Datu Taya (dalang wayang kulit), dan Datu Putih (penari topeng). Selanjutnya, berdiri Kerajaan Islam pertama di daerah Kalimantan Selatan, yaitu Kerajaan Banjar. Pada masa pemerintahan raja ketiga mereka, yaitu Pangeran Hidayatullah (1570-1595), para pemain gamelan di Kerajaan Banjar diperintahkan untuk belajar menabuh gamelan di Keraton Solo.

Alat musik yang terbuat dari perunggu, kayu dan mika ini dimainkan untuk mengiringi upacara-upacara di kerajaan, seperti pada saat mengantar perjalanan raja menuju paseban (ruang pertemuan), upacara perkawinan keluarga raja dan mengiri tarian-tarian, wayang kulit dan wayang orang saat pesta kerajaan. Namun seiring dengan dihapusnya Kerajaan Banjar oleh pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1860, maka kesenian gamelan di keraton mengalami kemunduran dan kesenian gamelan lebih berkembang dikalangan rakyat jelata.

Perangkat gamelan yang berada di Museum Nasional ini merupakan peninggalan asli dari Kerajaan Banjar dan konon dipesan dari Surabaya, Jawa Timur. Gamelan ini dikenal dengan sebutan “ Si Mangu Kecil” yang artinya adalah gamelan betina, sedangkan gamelan jantan yang dikenal dengan sebutan ’’Si Mangu Besar’’ berada di Museum Propinsi Kalimantan Selatan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar